Agar Murid Tak Kencing Berlari

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sejujurnya pepatah ini kurang sedap didengar. Pilihan katanya menimbulkan imajinasi yang tidak nyaman. Namun, mungkin justru efek itulah yang membuat banyak orang mengingatnya sekaligus menulis berbagai artikel tentangnya. Pepatah ini menyiratkan bahwa apa pun yang dilakukan guru, pasti akan disimak dengan baik oleh muridnya, lantas ditiru. Bahkan lebih dari itu, perilaku itu bisa dikembangkan oleh sang murid sehingga menjadi jauh lebih buruk dari perilaku gurunya.

Murid adalah pengamat yang sungguh cermat, apalagi di usia dini. Berbekal fitrah belajar yang diterimanya dari Sang Pencipta, mereka menyerap semua data dari sekeliingnya seperti spons menyerap air. Semua data itu diolah di dalam otak mungil mereka yang luar biasa, lalu diterjemahkan menjadi berbagai kesimpulan dan pengetahuan baru. Tidak jarang kesimpulan itu membutuhkan pembuktian sebelum diyakini kebenarannya. Misalnya seorang anak yang melihat ibunya memakan cabai dengan nikmat akan tertarik untuk membuktikan apakah cabai itu memang senikmat yang dilihatnya. Ketika ternyata buah merah menyala itu membuatnya kepedasan, barulah ia mendapat pelajaran baru bahwa tidak semua yang terlihat baik bagi orang lain juga baik bagi dirinya.

Semakin tinggi usia seorang murid, kebiasaan menyerap segala sesuatu itu tidak hilang, walaupun sering kali tidak sebaik di masa kecilnya. Para murid tetaplah pengamat yang baik dari perilaku gurunya. Hal ini tentu wajar, karena gurulah yang membersamainya selama hampir tujuh jam sehari. Hal yang penting diperhatikan, keinginan untuk membuktikan informasi yang diserap otaknya itu tidaklah hilang. Apalagi anak usia remaja yang memang membutuhkan role model bagi pembentukan jati dirinya. Apa yang ia lihat dari orang-orang yang berpengaruh dalam hidupnya, itulah yang akan ia coba terapkan bagi dirinya sendiri. Maka masalah pun muncul ketika apa yang ditiru itu bukan kebiasaan dan perilaku baik. Dengan kecerdasan otaknya murid mampu mengembangkan pengetahuan barunya itu menjadi berbagai perilaku dan tindakan yang justru jauh lebih buruk dari contohnya.

Baca Juga:  Membaca di Era Digital: Perpustakaan Digital di Jakarta yang Harus Dikunjungi

Semua pernyataan di atas semakin menguatkan pentingnya peran guru sebagai role model bagi murid. Seorang guru memang sudah seharusnya memiliki perilaku dan kebiasaan yang baik, sehingga pantas menjadi teladan bagi murid-muridnya. Tak ada debat dalam hal ini. Meskipun demikian, pada kenyataannya ada saja perilaku guru yang tidak sesuai dengan norma pada umumnya. Sebut saja misalnya guru yang merokok di ruang guru, beberapa jam kemudian tampak memarahi murid yang merokok di tempat parkir sekolah. Atau guru yang memarahi muridnya dengan kata-kata kasar, berharap sang murid akan bersikap santun kepadanya di lain kesempatan.

Perilaku seperti disebutkan di atas memang bisa diubah dengan sedikit mendisiplinkan diri. Hal yang harus dijaga adalah, kita harus menyadari bahwa perubahan itu bukan semata-mata agar murid tak meniru perilaku buruk kita. Mengubah perilaku hanya agar elok dilihat orang, selain melelahkan juga akan jadi pekerjaan sia-sia. Belum lagi jika tertangkap basah-reputasi taruhannya.

Ada beberapa hal yang perlu diingat sebelum kita mulai memperbaiki diri. Kita cek di bawah ini.

  1. Luruskan niat. Memperbaiki dan menjaga perilaku adalah kewajiban setiap insan beragama, tidak peduli apa profesinya. Ada atau tidak ada murid yang akan meniru, berperilaku baik tetap menjadi keharusan.
  2. Buka hati lebar-lebar. Siapkan diri untuk menerima kritik, teguran bahkan peringatan dari orang lain. Baik dari rekan sejawat maupun dari atasan. Sadari bahwa mereka melakukan itu untuk kebaikan kita dan murd-murid kita.
  3. Jangan memaksa diri. Guru juga manusia, yang bisa salah dan punya banyak kekurangan. Mengakui kesalahan ketika kita melakukannya justru akan menimbulkan penghargaan dari orang lain. Murid akan semakin menghormati jika kita mengakui kesalahan bahkan meminta maaf kepada mereka.
  4. Jangan sok tahu. Guru bukan Si Maha Tahu. Ketika murid menanyakan sesuatu yang tidak kita ketahui jawabannya, akui saja. Katakan bahwa kita belum mempelajari hal tersebut, kemudian ajak mereka mencari jawabannya bersama-sama. Pengetahuan yang diperoleh akan melekat di ingatan mereka, karena didapat dengan cara dan suasana yang menyenangkan. Selain itu hubungan guru dan murid akan lebih erat karena mereka dapat “menjangkau” gurunya. Jika sudah demikian, maka nasihat dan teguran sekalipun akan mereka terima dengan hati terbuka.
  5. Tampil apa adanya. Walaupun sekilas tampak bertentangan dengan keharusan untuk tampil prima di hadapan murid, sikap dan perilaku yang tulus dan apa adanya seringkali lebih berkesan dibandingkan dengan sikap dan perilaku yang dibuat-buat. Kebaikan yang timbul dari hati dan jiwa yang baik akan memikat orang-orang di sekitar, termasuk murid-murid kita. Biarkan mereka nyaman berinteraksi dengan guru. Biarlah mereka menemukan sendiri bahwa gurunya adalah manusia biasa, yang senantiasa berusaha untuk berbuat dan berperilaku baik.
Baca Juga:  Bagaimana Perpustakaan Digital Dapat Meningkatkan Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas

Menjadi teladan memang bukan pekerjaan mudah. Seorang guru mendapat sorotan tidak hanya dari murid dan kepala sekolah, melainkan juga dari orang tua murid dan masyarakat. Namun, menjadi teladan bukanlah berpura-pura baik di depan orang agar tidak mendapat celaan. Keteladanan harus datang dari dalam, memancar dari jiwa yang bersih dan berniat lurus. Seorang guru yang beriman dan selalu membersihkan hati akan menampilkan perilaku yang sedap dipandang tanpa harus memaksa dan berpura-pura. Maka murid pun akan meniru kebaikannya tanpa dipaksa, bahkan mengembangkannya hingga jadi modal di kehidupannya kelak.

Bagikan artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tentang Penulis