Guru Sebagai Pemandu Bakat Peserta Didik

Setiap peserta didik diberikan kemampuan dan keistimewaan masing-masing oleh Sang Pencipta. Ada yang unggul dalam bidang akademik. Tidak sedikit yang berbakat dalam nonakademik. Setiap kelebihan siswa ini berpotensi menjadikan mereka kompeten sesuai bidang yang mereka sukai.

Dalam praktiknya, seperti pengalaman penulis, hanya kemampuan akademik murid yang dapat terlihat dengan mudah oleh guru. Tercermin dari salah satunya kemampuan merespons materi yang diberikan guru secara lisan atau tulisan. Imbasnya terletak pada nilai-nilai akademik yang memuaskan di kelas. Biasanya murid-murid yang pintar secara akademik ini mendapat perhatian khusus oleh sekolah. Mereka akan kerap dilibatkan menjadi duta sekolah dalam kompetisi bidang studi. Guru akan memberikan materi-materi tambahan sebagai pengayaan bagi peserta didik yang akan diikutsertakan dalam lomba.

Lalu bagaimana dengan murid-murid yang tidak unggul dalam bidang studi? Nah, ini menjadi tugas pendidik untuk menemukan berlian-berlian yang tak kalah kemilau di sekolah. Memang tidak mudah, karena biasanya peserta didik yang memiliki bakat-bakat istimewa ini tidak serta merta moncer begitu saja. Ada yang menunggu ditemukan dan dipoles dengan kesabaran guru. Apalagi bakat-bakat istimewa ini tidak seketika terlihat langsung oleh orang lain, termasuk guru.

Guru sebagai Pendamping

Peserta didik membutuhkan guru kreatif dan inspiratif untuk membantu menemukan potensi terbaik dalam dirinya. Selama ini kita tahu dan alami bahwa tugas guru sangatlah banyak. Tidak hanya mengajar dan menghabiskan materi di kelas, tetapi juga menyelesaikan berbagai macam tugas-tugas administasi yang tidak ada korelasinya dengan kepentingan siswa. Ini yang pada akhirnya membuat guru kehilangan momen dalam mengobservasi dan menggali potensi murid-muridnya.

Ya, idealnya guru meluangkan waktunya untuk mendampingi siswa-siswinya secara komprehensif. Tidak hanya saat di kelas saja, tetapi juga di luar kelas. Guru yang dekat dengan anak-anaknya di sekolah tidak akan kesulitan menemukan potensi unik setiap siswanya.

Baca Juga:  Buku Cerita Anak Sebagai Media Belajar

Hal ini dimungkinkan karena murid berkonsultasi atau berdiskusi dengan gurunya mengenai bakat dan minatnya pada bidang tertentu. Guru juga dapat mengidentifikasi potensi siswa-siswinya dari keseharian mereka di sekolah. Seperti misalnya ada murid yang suka melukis atau menggambar saat jam istirahat. Ada yang tekun membaca buku saat teman-temannya bermain.

Ini menjadi kesempatan bagi guru untuk mengeksplorasi passion siswa sekaligus ”pintu” untuk memberikan pendampingan intensif pada siswa. Bisa dengan cara guru memberikan tugas tambahan menyenangkan kepada siswa. Ambil contoh bagi siswa yang suka membaca diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas dan membagikan pengalamannya bercerita isi buku yang dibacanya. Lalu, diarahkan untuk menulis semacam resensi sederhana setiap dia selesai membaca.

Untuk siswa yang berbakat dalam seni lukis, bisa diberikan kesempatan untuk memamerkan karya-karyanya di dalam ruang kelas. Jika ada siswa yang kemampuan berbicaranya bagus dan percaya diri, bisa dilatih untuk tampil memandu acara-acara sekolah. Bagi siswa yang punya bakat menulis cerita, guru bisa mendampinginya dalam proses penulisan sampai menjadi karya baik berupa cerita pendek maupun novel. Jika pendampingan ini berlangsung dengan konsisten, tentunya sekolah akan makin penuh warna. Semua peserta didik memiliki kontribusi membanggakan sekolah sekaligus kesempatan yang sama untuk berprestasi di masing-masing bidang.

Wah, terlihat rumit ya! Apakah ini berarti guru harus menguasai semua kompetensi agar bisa mendampingi murid-muridnya? Tentu saja tidak! Guru juga manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Peran sinergi dengan rekan sesama guru tentunya akan jauh lebih bermakna dalam mendukung dan mengembangkan potensi siswa-siswi di sekolah.

Selain memberikan ruang dan pendampingan khusus, guru bisa menjadi sumber informasi bagi peserta didik. Misalnya mencarikan penerbit untuk mempublikasikan tulisan murid-murid yang suka menulis, aktif berburu informasi lomba-lomba sesuai bakat siswa, bekerjasama dengan banyak pihak yang bisa memberikan kesempatan kepada anak-anaknya didiknya untuk tampil. Guru juga sangat dianjurkan rajin mereferensikan bacaan-bacaan atau tayangan yang bisa memotivasi siswa menekuni passion-nya. Ya, guru sekaligus berperan sebagai manajer yang terlibat aktif untuk membuka semua pintu-pintu kemungkinan tampil dan berprestasi.

Baca Juga:  Implementasi Kurikulum Merdeka Pascapandemi

Tugas ini bila ditekuni dengan konsisten akan menyenangkan bagi guru. Sebab, sangat memungkinkan untuk bersama-sama peserta didik mengembangkan potensi terbaik dalam diri mereka. Murid-murid pun juga akan tumbuh semangat dan motivasinya untuk tidak malu-malu menampilkan bakat dan minat mereka serta berusaha menunjukkan prestasi terbaiknya sesuai passion yang mereka geluti.

Bagikan artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tentang Penulis