Meningkatkan Partisipasi Guru dalam Bermedia Sosial

Pesatnya perkembangan dunia teknologi dan komunikasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan sosial. Sehari-hari masyarakat tidak hanya berjibaku di dunia nyata, tetapi sekaligus sibuk di dunia maya. Pemandangan menenteng gawai menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Tidak hanya orang dewasa saja, tetapi remaja dan anak-anak di bawah umur pun juga ”bermain” telepon genggam, laptop, dan sebagainya.

Banyaknya aplikasi yang bisa diunduh dengan mudah dan digunakan pengguna baik untuk kepentingan serius atau main-main, menjadi tantangan sekaligus ”ancaman” tersendiri. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, penggunaan gawai berpotensi menimbulkan ”bencana” sosial yang merugikan baik pribadi maupun orang lain.

Pandemi Covid-19, membawa banyak perubahan sosial di berbagai sektor. Termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar berlangsung secara daring dengan menggunakan beragam aplikasi seperti Zoom, Google Meet, dan bahkan Youtube. Ruang-ruang belajar berpindah ke dunia maya. Tenaga pendidik dan peserta didik berjibaku menyesuaikan diri. Membiasakan diri untuk terampil menguasai alat-alat komunikasi bagi kepentingan belajar dan mengajar menjadi sebuah keharusan.

Di sinilah peran guru dibutuhkan untuk mendampingi siswa dalam memanfaatkan teknologi komunikasi secara tepat guna. Ya, penggunaan gawai untuk belajar dan mengajar di satu sisi memberikan dampak negatif yang dikeluhkan wali murid. Anak-anak di rumah, menjadikan alasan belajar dan mengerjakan tugas untuk mengoperasikan gawai tanpa kenal waktu. Padahal mereka menggunakan handphone dan laptop untuk bermain games, mengakses konten Youtube, dan aktivitas-aktivitas online lain yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Peserta didik juga memproduksi konten-konten hedonisme melalui aplikasi entertainment lainnya.

Partisipasi Guru

Banyak orang tua yang mengeluhkan kebiasaan baru putra-putrinya yang tidak bisa lepas dari gadget daripada membaca buku atau membantu orang tua. Di sinilah dibutuhkan partisipasi guru untuk mengarahkan peserta didik untuk cerdas dalam bermedia sosial. Apa saja?

Baca Juga:  Pembelajaran Kooperatif: Membangun Kolaborasi dan Keterampilan Sosial di Ruang Kelas

Di kelas, guru bisa mengingatkan peserta didik untuk menggunakan gawai seefisien dan seefektif mungkin. Ajak siswa untuk berpikir kritis dan matematis. Kaitkan dengan berapa anggaran yang dialokasikan orang tua dalam membeli paket data atau berlangganan Wifi dengan manfaat yang diperoleh siswa saat menggunakan gawai.

Dengan power atau otoritasnyanya, guru juga bisa memberikan arahan pada siswa untuk mengakses banyak informasi penting dari beragam sumber berita di internet. Aktivitas tersebut akan menarik apabila setiap hari guru mengajak siswa mendiskusikan isu-isu penting, baik nasional atau pun internasional sebagai bahan pengayaan di kelas. Guru mengarahkan siswa untuk menyaring berita-berita yang mereka akses. Ini sekaligus mengajak siswa untuk berpikir kritis dalam mengkaji informasi yang mereka terima, yakni mana berita yang valid dan mana yang hoax.

Peran guru sebagai fasilitator, mendorong murid-murid untuk tidak sungkan mengemukakan gagasan-gagasannya. Siswa juga mendapatkan ruang untuk menemukan banyak jawaban atas rasa ingin tahunya. Tidak hanya melalui penjelasan guru di kelas, tapi juga akses informasi seluas-luasnya melalui media sosial.

Sebagai role model, guru idealnya mampu menginspirasi siswa untuk berkreasi dan berkreativitas. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi, pendidik bisa membuat materi-materi pembelajaran yang menyenangkan yang bisa diakses peserta didik. Misalnya, guru membuat konten ulasan buku baru yang dibacanya menggunakan aplikasi kekinian. Kemudian, guru membuat tantangan bagi peserta didik untuk melakukan hal yang sama dengan bacaan-bacaan favorit murid-muridnya. Setelah konten selesai dibuat, konten tersebut kemudian didiskusikan di kelas sebagai bahan pembelajaran atau menjadi materi pekerjaan rumah.

Tentu dalam pembuatan konten-konten tersebut, siswa harus diberikan aturan main yang dikomunikasikan dengan orang tua. Misalnya tugas menggunakan gawai hanya dikerjakan saat akhir pekan, pengumpulan tugas tidak melebihi jam istirahat siswa di rumah, dan pembuatan proyek harus sepengetahuan orang tua. Sehingga ada sinergi terpadu antara guru dan orang tua.

Baca Juga:  Mengajarkan Nilai-Nilai Demokrasi kepada Siswa di Sekolah

Ya, partisipasi aktif guru dalam cerdas bermedia sosial ini merupakan salah satu tanggung jawab sosial pendidik untuk mengawal para siswanya dalam menggunakan gawai dengan tepat. Tentunya guru tidak hanya sekadar mengarahkan dan menginstruksi saja, tetapi juga menjadi panutan terdepan. Pendidik memiliki konsistensi dalam menggunakan gadget untuk hal-hal positif dan sarana memotivasi siswa untuk berkarya dan mengasah potensi dirinya sebaik mungkin sehingga mendukung proses belajar mengajar.

Bagikan artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tentang Penulis