Prioritas Anak Belajar atau Bermain?

Sesuatu yang ironis dalam pendidikan di Indonesia adalah mendapati anak-anak yang memaknai sekolah sebagai tempat berlatih untuk menghadapi ujian demi ujian. Anak-anak memandang sekolah hanya sebagai tempat untuk mengejar kelulusan dan mendapatkan sertifikat. Terbentuknya pandangan ini tak lain adalah karena hasil dari sistem pendidikan yang memaksa untuk menyuapi anak dengan informasi demi informasi.

Sekolah menjadi tidak kreatif dengan berbagai macam koridor yang membatasi anak-anak dengan arahan demi arahan. Alih-alih berperan sebagai tempat untuk mengembangkan potensi, sekolah tak lebih dari aktivitas rutin dari hari ke hari. Tak ada kegiatan yang mengalir dan menggairahkan. Baik tenaga pendidik maupun siswa memulai hari mereka dengan masuk ke kelas yang selalu sama, mengajar dan belajar dengan materi dan metode yang monoton. Hingga menunggu jam pulang sekolah tiba.

Anak-anak kita yang begitu cerdas seharusnya mendapatkan hak mereka untuk menikmati pendidikan dengan baik. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan mendapatkan apresiasi atas apa yang mereka mampu lakukan, bukan apa yang tidak mampu mereka lakukan. Lalu, jika sistem tersebut masih terus berjalan hingga saat ini, apa yang perlu kita lakukan?

Sekolah yang Menyenangkan

Kita tentu mendambakan suasana sekolah yang tidak dipenuhi keluhan. Anak-anak datang ke sekolah dengan penuh antusiasme serta keriangan yang membuat siswa, guru, dan orang tua betah untuk membincangkan pendidikan anak-anak mereka. Pada dasarnya, belajar tidak perlu dipaksakan. Seperti teori otak yang dikemukakan oleh Paul McLean bahwa melibatkan emosi dan memberikan stimulus pada anak akan memberikan hasil pembelajaran yang jauh lebih baik ketimbang menjejalkan dan memberikan tekanan atas target capaian nilai. Untuk memulai itu semua, tentu kita perlu memahami definisi belajar secara fundamental.

Baca Juga:  Pentingnya Mendorong Siswa untuk Mengambil Risiko dan Belajar dari Kegagalan

Belajar bukan sekadar membaca atau menulis. Belajar memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga tentang penguasaan keterampilan. Kata belajar ini seringkali dianggap berlawanan dengan kata bermain. Makna yang begitu sempit atas kedua kata tersebutlah yang akhirnya diartikan sebagai: bermain mengganggu belajar dan belajar menghalangi kesenangan dalam bermain. Padahal orang dewasa justru sering bermain-main dalam berbagai ruang kehidupannya. Seperti halnya memainkan strategi, memainkan peran, bermain dengan ide dan imajinasi, dan lain sebagainya. Bermain tersebut sering kita katakan sebagai: bekerja.

Kenapa Bermain itu Penting?

Kita mungkin lupa bahwa sebelum anak-anak memasuki dunia sekolah, dunia mereka adalah seputar bermain. Masa-masa itu membentuk emosi yang sehat serta tumbuh kembang yang baik. Namun, ketika tiba usia sekolah, kesenangan tersebut seolah-olah berakhir dengan kehadiran berbagai macam beban akademis yang mesti terpenuhi.

Ketika anak-anak “bermain”, ada banyak hal yang mereka pelajari secara tidak langsung. Penyelesaian masalah, kalkulasi, komunikasi, bekerja sama, menemukan makna, mengumpulkan dan merekam data, serta banyak hal lainnya. Proses ini jauh lebih kaya ketimbang duduk, mendengarkan, membuat catatan, dan mengerjakan soal. Jika orang tua dan tenaga pendidik memahami hal ini lebih dalam, tentu keduanya dapat menjadi mitra untuk tumbuh kembang pembelajaran anak-anak.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Orang tua dan tenaga pendidik pada akhirnya memerlukan kolaborasi untuk menyajikan pembelajaran yang penuh petualangan, kaya akan rangsangan, dan berfokus pada keterampilan yang dibutuhkan anak-anak di masa depan. Nilai bukanlah gengsi yang harus dikejar. Lagipula, anak yang antusias untuk belajar akan mengejar pencapaian tanpa perlu motivasi karena hal itu sudah ada dalam dirinya sendiri.

Baca Juga:  Menjadi Guru Inspiratif: Kiat Mengembangkan Karisma dan Keterampilan Mengajar

Bagaimana kolaborasi tersebut bisa tercipta? Pertama, definisi tentang belajar dan bermain perlu diperluas. Kedua, hal ini saling terkait dan bukannya justru saling bertentangan satu sama lain. Pemahaman ini tentu tidak mudah untuk tercipta. Latar belakang pengalaman belajar dulu, ditambah standar dan keumuman mengenai bentuk pendidikan di Indonesia menciptakan pemahaman yang tetap sama. Kita perlu membuka hati untuk menerima pemahaman baru tersebut. Jika pemahaman ini sudah dimiliki, nantinya akan tercipta pemahaman yang lebih baik pada kurikulum dan kegiatan sekolah. Sehingga penyajian pendidikan tidak hanya berjalan di sekolah, melainkan juga di rumah.

Bagikan artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tentang Penulis